travelling

elins company visit 2010

cerita lewat foto aja yaaa…

Hari Pertama 5 Juli 2010 : Indofood Semarang

Hari ke dua 6 Juli 2010 : PT Omron @ Bekasi and LAPAN


Hari ke tiga : Gelanggang Samudra dan Dunia Fantasi 😀

Hari keempat : Pertamina unit Pengapon Semarang

begitulah..hehe..

Advertisements

berjumpa malang

ya seperti saya bilang, 2 minggu lalu saya pergi ke malang ngintil jadi suporter tim robot ugm

untuk ceritanya, ternyata sudah ada teman saya yang posting dan ga jauh beda lah dengan cerita saya, jadi cekidot di sini

sekarang saya mau share foto foto aja..

hehe

inilah beberapa suporter dari ELINS

(maaf atas kualitas foto yang buruk, hehe)

well..setelah ini saya mau pergi dulu dari kesumpekan jogja, mbok sumpah gara gara muktamar Muhammadiyah plus musim liburan sekolah, jogja ku ini jadi penuuuhhhhhh dan macettttttt…

kemana?  Semarang and Jakarta..bladalah malah tambah sumpek ya?

hahaha…gapapa deh…

I’M READY FOR ELINS COMPANY VISIT 2010!

tunggu cerita dan foto foto dari saya 😀


berjumpa solo

Tiba tiba di suatu siang di hari kamis tanggal 13Mei, seorang teman yaitu mb puspita, nyeletuk “Nis ke solo yuk survey batik”.

“Mau kapan mbak?”

“Minggu”

Ziiinggg…mendadak banget. But it’s okaaayyy. Segera agenda hari Minggu dikosongkan untuk pergi ke Solo. Ajak teman2 “kantor” (BEM KM FMIPA UGM) yang lain, tapi ternyata mereka ada acara di “kantor” lainnya. Emang ni jadi mahasiswa pada kebanyakan punya “kantor”. Padahal ini survey batik yang mau dipake buat kembaran di “kantor”. Akhirnya hanya 1 orang yang merespon ajakan kami. Buehehe..Satu orang beruntung itu adalah Risma.

Jadilah kami berbincang bincang tentang rencana itu. Ke Solo ke mananya? Klewer? Kampung Batik? Naik Prameks? Kumpul jam berapa di Lempuyangan? Kepastian yang ada hanyalah : kumpul di Lempuyangan jam 7 pagi.

Hari Minggu pun datang. Tujuh kurang seperempat, sudah di ruang depan nungguin Risma. Jam tujuh, masih di ruang depan nungguin Risma. (fast forward) Jam 8 sampai di Lempuyangan. Mb Pu untungnya sudah membelikan kami tiket, jadi langsung masuk ke Peron. Ngobrol, ngemil, baca koran, dll menunggu jam 8.41 jam nya kereta datang.

Pengumuman kereta datang berkumandang, langsung deh berdiri dan jalan ke jalur 2. Ternyata oh ternyata, ada alumni “kantor” kami, Mz Lambang, yang sekarang ngurusin “kantor pusat” (BEM KM UGM maksud ane) bersama staff staff nya yang juga mau jalan jalan ke Solo. Biar asik dan rame, kami naik di satu gerbong. Dan perjalanan ke Solo yang harusnya capek karena ga dapet tempat duduk jadi ga terasa karena kehebohan salah satu staff nya yang lebay abis. SWT tapi cukup menghibur.

Di dalam kereta waktu baru aja berangkat, ibu sekjend “kantor” sms. “Nis jadi ke Solo? Naik kereta jam berapa?”. “Ini baru aja berangkat mb”. “Kayaknya kita di kereta yang sama deh.”

Loh? Setahuku si ibu sekjend alias mb Uuz itu sudah di Solo dari hari kemarin. Dan kami bertiga ke Solo juga emang ada rencana ke tempat budhenya mb Uuz, kali kali disuguhin makan gratis yang kata-katanya juga jualan batik di Lawean. Pas turun di Purwosari dari kejauhan terlihat sosok mungil yang langsung teridentifikasi sebagai mb Uuz karena tas birunya. Akhirnya kami tetapkan tujuan pertama kami adalah Kampung Batik Lawean tempat budhenya mb Uuz.

Di sana kami terpuaskan dengan pesona batik yang okeh okeh. Foto foto in beberapa sampel batik untuk ditunjukkan ke temen temen “kantor” di Jogja. Liat – liat batik yang masih direndam. Keliling rumah yang penuh dengan barang antik. Tivi taun 80 an, sepeda onthel jaman penjajahan, masih dipajang di sana. Ada juga foto ibu Megawati dan batik hasil karyanya. Istirahat leyeh leyeh di dapur, mengumpulkan tenaga untuk habis dhuhur melanjutkan perjalanan ke Klewer.

Habis sholat dhuhur, kami ditawari makan siang. yes yes yes! Lalu si Risma ingat kalau ada Final Thomas Cup dan akhirnya kami berencana nonton sebentar. Televisi pun dihidupkan.

Taufik Hidayat berlaga. Mata menatap tajam layar televisi. Pantat sudah menempel di sofa ruang keluarga. Setengah jam kemudian, entah siapa yang nyeletuk “jadi ke Klewer ndak ini?” Dan entah siapa pula yang menjawab “udah PW e”. Setengah jam kemudian kami masih duduk di sana, menonton Thomas Cup, dan hujan datang. Ya sudaaahhh…ndak jadi lah kami ke Klewer. XP

Thomas Cup. Kuciwa dengan permainan Taufik Hidayat yang kayaknya nge drop banget. Mana lawannya bermuka intimidatif. Sempat terkesan dengan pasangan Markis Kido dan Setiawan, tapi akhirnya kalah juga.

Habis ashar, kami putuskan untuk pulang. Jalan kaki berhujan – hujan sampai stasiun Purwosari. Beli tiket. (fast forward) sampai Jogja deh.

Ga ada oleh oleh. Ga ada foto foto kami bertiga, cuma foto sampel batik.

Kesimpulan yang bisa didapat dari perjalanan ini : Kalau mau jalan jalan sebaiknya jangan rencanakan dengan mendadak dan rencanakan dengan matang!


maghrib 11 mei 2010

Maghrib itu, bersama seorang teman maen ke bantul untuk survey sebuah rumah makan yang akan dijadikan tempat kumpul. Terminal Giwangan ke selatan terus, ada perempatan lurus, pas di pojokan belokan pertama ke kanan. (mau nyebut nama daerahnya takur salah karena saya buta daerah Bantul)

Setelah melakukan negosiasi dan booking tempat, kami mencari masjid untuk menunaikan ibadah sholat maghrib. Kami berdua tahu di dekat situ ada masjid, dan kami tahu siapa yang “bermukim” di sebelahnya. Seorang teman yang sudah hampir setahun meninggalkan kami. Mas Rifqi Yudhistira A.P. Ya di maghrib itu saya mendadak teringat akan nya. A really good man. Semoga Mas Eqi tenang di sisi-Nya. Amien

Masjid yang kami datangi itu cukup nyaman. Di tengah –  tengah nya masih terdapat empat saka yang berhiaskan ukit-ukiran, khas peninggalan jaman wali sanga. Hijab hijau yang membatasi antara jemaah putra dan putri membentang dari depan ke belakang, memberi rasa aman ubtuk beribadah tanpa dilihat lawan jenis.

Di masjid itu, saya melihat sesuatu yang mungkin jarang ditemui di kota. Jamaah di masjid itu bisa dibilang banyak. Memang kebanyakan para orang tua, namun ada juga anak anak dan ibu ibu muda. Setelah sholat pun mereka tak langsung pulang, namun tetap tinggal di tempat untuk berdzikir bersama. Bahkan ada beberapa simbah-simbah yang belajar ngaji di sana.

Trenyuh melihat keadaan itu. Mengapa yang giat beribadah dan menyambangi masjid justru para orang tua yang sedang menunggu panggilan – Nya? Mengapa bukan para anak muda seperti saya yang masih segar bugar? Mengapa di desa tersebut jamaah nya ramai dan masjid di tempat saya tidak?

Yeah,maghrib itu mungkin saya melakukan perjalanan tidak bermutu, membelah kota Jogja hanya untuk booking tempat. Namun perjalanan ini sungguh spiritual bagi saya. Terima kasih Allah, sudah membuat saya mampir ke sana 🙂